Edukasi
Tuesday, 27 April 2010 05:59
Komodo
Komodo
Kebun Binatang Praha, Ceko, sukses besar menangkar komodo dari Indonesia hingga melahirkan 7 ekor bayi komodo. Bayi-bayi komodo ini diberi nama-nama Indonesia!
Upacara pemberian nama bayi-bayi komodo tersebut dilakukan secara bersama oleh Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Praha Azis Nurwahyudi dengan Direktur Kebun Binatang Praha Miroslav Bobek di Paviliun Kura-Kura, disaksikan ratusan pengunjung, Minggu (25/4).
Tujuh ekor bayi komodo itu berturut-turut diberi nama Abang, Putra, dan Raka untuk tiga anak komodo jantan, sementara untuk empat yang betina diberi nama Ayu, Gadis, Galuh dan Nona,
"Nama-nama sapaan untuk pemuda dan pemudi dari berbagai daerah di Indonesia itu diharapkan dapat menjadi simbol persahabatan antara Indonesia dan Ceko," ujar KUAI Azis Nurwahyudi.
Ayah ibu komodo-komodo itu awalnya merupakan hadiah Presiden Megawati Sukarnoputri di 2004. Tiga tahun kemudian (2007) sepasang komodo tersebut telah melahirkan tiga ekor anak dan di penghujung 2009 melahirkan lagi tujuh anak.
Untuk keperluan pemberian nama, sebelumnya pihak manajemen Kebun Binatang Praha telah melakukan konsultasi dengan KBRI mengenai nama-nama yang tepat untuk bayi-bayi komodo kebanggan Ceko itu.
"Dari sejumlah alternatif yang diberikan, mereka memilih tujuh nama tersebut," terang Azis.
Direktur Miroslav Bobek menyatakan sangat gembira dengan nama-nama khas dari Indonesia yang diberikan. "Nama-nama itu mengingatkan asal-usul komodo tersebut. Tidak mudah memilih nama, karena akan disandang seumur hidup," tambah Bobek.
Sementara itu Teddy Sunardi, seorang warga Indonesia yang menghadiri acara tersebut, mengatakan bahwa ide yang tepat untuk memberikan nama Indonesia karena nama-nama tersebut harus dikenalkan di Ceko.
"Pemilihan nama yang sederhana namun bermakna itu juga mudah diingat oleh anak anak kecil dan warga Ceko," ucap Teddy.
Kebun Binatang Praha memecahkan rekor di Eropa daratan karena satu-satunya Kebun Binatang yang mampu mengembangbiakkan komodo dari Indonesia.
Petr Velensky, ahli reptil yang bekerja di Kebun Binatang Praha, berhasil menerapkan metode baru untuk pengembangbiakan komodo, di mana binatang itu dapat hidup seperti di habitat asalnya, Indonesia.
Oleh karena itu di Kebun Binatang Praha terdapat Paviliun Indonesia dengan suasana sangat tropis dan dihuni oleh berbagai binatang dari daerah tropis. Saat ini di seluruh Eropa terdapat 42 ekor komodo yang hidup di 12 Kebun Binatang.
Acara pemberian nama dimeriahkan dengan Tari Kayau (Kalimantan) dan Tari Condong (Bali) yang ditampilkan oleh Sanggar Tari Sekar Melati binaan KBRI Praha. Selain itu kepada para pengunjung juga dibagikan aneka makanan khas Indonesia.
Sumber - Detik
Teknologi VS Moral
Selasa, 27 April 2010
ERA informasi dan globalisasi sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah memberikan dampak pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Perubahan masyarakat akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut membawa dampak yang besar pada budaya, nilai, dan agama. Nilai-nilai yang sementara ini dipegang kuat oleh masyarakat mulai bergeser dan ditinggalkan. Sementara nilai-nilai yang menggantikannya tidak selalu sejalan dengan landasan kepercayaan atau keyakinan masyarakat, sehingga penyimpangan kian subur dan berkembang.
Dalam situasi seperti ini, remaja dan mahasiswa yang sedang berada dalam kondisi psikologis yang labil menjadi korban pertama, sebagaimana terjadi dalam berbagai kasus hedoisme, konsumerisme, hingga peningkatan kenakalan remaja dan narkotika.
Hal ini semakin membuktikan bahwa nilai-nilai hidup tengah bergeser sehingga membingungkan para remaja, menjauhkan mereka dari sikap manusia yang berkerpibadian, khususnya para pelajar dan mahasiswa yang sedang mengalami proses kegalauan yang parah dalam mencari jati diri.
Pendidikan agama yang selama ini menjadi tameng utama bagai generasi muda mulai dirasakan kurang berpengaruh dan lebih tepatnya kurang diminati, mengingat orang tua tenggelam dalam kesibukannya masing-masing, sedangkan lingkungan dan pergaulan yang tidak steril dari perilaku yang menyimpang dari norma-norma sosial dan agama.
Sementara sekolah dan perguruan tinggi, padat dengan pencapaian tujuan kurikulum yang menonjolkan aspek komunikatif. Output pendidikan lebih banyak menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak mampu menghadapi tantangan hidup dan kehidupan (survive).
Standar moral dan spiritual anak nyaris tanpa sentuhan, sehingga nilai dan norma yang tertanam pada diri anak hanya sesuatu yang absurd. Maka pendidikan agama sebagai pembinaan nilai dan moral dituntut untuk dapat menangulangi dan mengantisipasinya sehingga masa depan mereka khususnya dan bagi bangsa pada umumnya dapat diselamatkan. Maka penting sekali pembelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai imtaq dan iptek dalam rangka untuk mengantisipasi/ meminimalisasi semakin terpuruknya akhlak anak bangsa.
Apabila proses pembelajaran semacam ini berhasil direalisasikan, muncul keoptimisan bahwa di samping agar peserta didik memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), niscaya proses pendidikan juga dapat mendasari bagi terbentuknya akhlak atau perilaku generasi muda kita secara seimbang, sehingga pada gilirannya nanti dapat membentuk manusia Indonesia yang utuh dengan dilandasi iman dan taqwa (imtaq).
Dengan kata lain proses pendidikan tersebut dapat menciptakan generasi muda harapan bangsa yang berilmu amaliyah, beramal ilmiyah, dan bertaqwa ilahiyah.
Di samping itu, rendahnya pendidikan masyarakat, sistem pendidikan yang tidak mapan, struktur ekonomi yang keropos, serta jati diri bangsa yang belum terinternalisasikan, juga menjadikan bangsa rentan terhadap nilai-nilai baru yang datang dari luar.
Nilai-nilai barat yang sebagian berseberangan dengan nilai-nilai ketimuran dengan mudah diadopsi, terutama oleh generasi muda. Nilai yang mudah ditiru pada umumnya adalah nilai-nilai yang berisi kesenangan, permainan, dan hedonisme yang sering kali membawa dampak buruk. Sebaliknya, nilai- nilai positif dari barat seperti kecerdasan dan kemajuan Iptek tidak diserap dengan baik. Menghadapi persoalan tersebut, di kalangan ahli pendidikan sepakat untuk membina dan mengembangkan pendidikan nilai, moral, dan norma dengan formulasi pendidikan agama yang sesuai dengan kenyataan yang dihadapi saat ini.
Bangsa Indonesia yang berwatak sosialistik-religius bercita-cita meraih kehidupan yang seimbang, serasi, dan selaras antara kehidupan batiniah dengan kehidupan fisik materiil, di mana nilai keagamaan menjadi dasar atau sumber motivasinya.
Bila perkembangan iptek tanpa didasari dengan ajaran agama atau tanpa dilandasi dengan ketakwaan kita pada Tuhan, jenis-jenis perilaku indisipliner dapat terjadi yang terdiri atas perilaku berkatagori pelanggaran kriminal dan non kriminal. Penyebab terjadinya perilaku itu adalah faktor lingkungan yang merangsang dan secara pribadi sesuai dengan motivasi.
Sedangkan pendidikan agama saat ini dipandang berhasil hanya dengan melaksanakan ritual agama. Sementara aspek ekonomi, sosial, dan budaya tidak begitu diperhatikan, sehingga nilai-nilai agama lepas dari penganutnya atau dengan kata lain pelaksanaan ritual agama oleh seseorang terlepas dari perilaku sosialnya.
Ada beberapa tawaran konsep kurikulum yang dipersiapkan untuk membekali anak didik agar berkualitas dan profesional dalam menghadapi tantangan zaman. Pertama harus menonjolkan tujuan agama dan akhlaqul karimah, dalam materi atau pelaksanaannya, karena seiring sekali dari penerapan materi pelajaran, tidak dikaitkan dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat sehingga yang ada hanyalah pemenuhan pemahaman yang bersifat pengetahuan saja.
Kedua, kandungan materi pendidikan yang mencakup aspek jasmani, intelektual, spiritual, dengan diimbangi dari ketiga hal tersebut, anak didik diharapkan dapat memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa.
Ketiga, adanya keseimbangan antara ilmu syariat dengan ilmu umum. Selama ini seolah-olah terjadi pengkotak- kotakan antara ilmu yang berhubungan dengan teknologi dan ilmu yang berhubungan dengan agama, sehingga ibarat dua kutub yang saling berlawanan tidak akan pernah bisa bertemu.
Keempat, harus mempertimbangkan perkembangan dan kondisi psikologi anak didik. Dalam era modern seperti sekarang ini, laju perkembangan iptek sangat mempengaruhi karakter kepribadian dan berpikir para remaja, sehingga apabila tidak disesuaikan dengan psikologi anak didik, pasti dapat menghancurkan kepribadiannya itu sendiri.
Jadi akhirnya perkembangan informasi dan teknologi tidak bisa dianggap sebagai batu sandungan terhadap perkembangan moral bangsa. Dengan reformulasi kembali metode atau materi pendidikan, sehingga aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sekarang ini menjadi sangat penting terutama dalam memberikan sumbangan pada masyarakat.
http://www.informanz.co.cc/2010/04/teknologi-vs-moral.html
Langganan:
Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar